Home / Berita Umum / Trik Sandiaga Uno Untuk Perlebarkan Sayap Demi Elektabilitas

Trik Sandiaga Uno Untuk Perlebarkan Sayap Demi Elektabilitas

Trik Sandiaga Uno Untuk Perlebarkan Sayap Demi Elektabilitas – Akan cawapres Sandiaga Uno semakin aktif menyambangi beberapa daerah dalam kurun waktu paling akhir. Selesai sah jadi pendamping akan capres Prabowo Subianto di Pemilihan presiden 2019, Sandi suka kunjungan ke beberapa daerah, dari mulai Lombok, Bogor, Yogyakarta, sampai Riau.

Dalam tiap-tiap kunjungannya, bekas Wakil Gubernur DKI Jakarta itu juga tetap meluangkan diri bercengkerama dengan masyarakat ditempat.

Paling akhir Sandi berkunjung ke beberapa tempat di Riau, termasuk juga tanah kelahirannya, Rumbai. Bahkan juga Instansi Kebiasaan melayu (LAM) Riau membuat acara kebiasaan Tepung Tawar pada Sandi.

Langkah ini bukan tiada argumen. Menjadi akan calon presiden, Sandi harus memperlebar sayapnya ke beberapa daerah sebelum kampanye yang diawali 23 September yang akan datang. Maklum, sampai kini Sandi semakin banyak diketahui di lokasi Jakarta saja.

Pengamat politik Instansi Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengamini Sandi lebih popular di Jakarta saja karena dia kira-kira delapan bulan menjabat menjadi Wakil Gubernur. Diluar itu Sandiaga dikenal juga di kelompok entrepreneur, akan tetapi bukan di penduduk kelompok menengah serta bawah.

Siti menilainya kunjungan Sandi ke beberapa daerah juga tidak terlepas dari usahanya mengenalkan diri menjadi cawapres pada Pemilihan presiden 2019.

” Dengan nasional bisa jadi Sandi cukup sudah popular menjadi entrepreneur serta Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tetapi tempat barunya menjadi calon wakil presiden mungkin belumlah cukuplah meluas diketahui serta belumlah mengakar, ” kata Siti waktu dihubungi CNNIndonesia. com Rabu (5/9).

Siti lihat, safari Sandi ke beberapa daerah ini dapat menjadi sisi dari upayanya mengangkat kepopuleran. Baik kepopuleran diri ataupun kepopuleran Prabowo.

Hal tersebut lumrah, mengingat merujuk pada beberapa survey, contohnya Lingkaran Survey Indonesia (LSI), kepopuleran Sandi cuma dapat meningkatkan tipis pencapaian nada Prabowo.

LSI mensimulasikan kepopuleran Prabowo tiada pasangan calon wakil presiden ada diangka 28, 8 %. Akan tetapi sesudah dipasangkan dengan Sandi menjadi calon wakil presiden, kepopuleran Ketua Umum Gerindra itu bertambah menjadi 29, 5 %. Berarti, kepopuleran yang dikontribusikan oleh Sandi tidak lebih dari satu %.

Sandi sendiri mengaku sempat dengar pencapaian kepopuleran yang dimilikinya cuma 0, 3 % menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

” Karenanya Sandi menilainya terpenting lakukan tour/visit ke beberapa daerah. Hal seperti ini terpenting untuk menyosialisasikan diri, mengenalkan diri serta langsung bisa menegur calon pemillih, ” kata Siti.

” Tatap muka yang dikerjakan Sandi semenjak awal itu begitu berarti serta pengaruhnya dapat juga menjadi positif pada penambahan kepopulerannya, ” lebih Siti.

Saat kunjungan ke beberapa daerah, Sandi dituding mengambil start kampanye. Karena kampanye untuk Pemilihan presiden ataupun Pileg baru dikerjakan 23 September serta baru akan berkahir pada 13 April tahun kedepan.

Walau dibantah Sandi, akan tetapi hal seperti ini masih jadi masalah karena dia tidak bisa dilepaskan dari statusnya menjadi akan calon wakil presiden.

Tentang ini Siti menilainya apakah yang dikerjakan Sandi tidak termasuk juga dalam kelompok kampanye. Ada banyak hal yang memperkuat argumentasi ini.

Pertama, sekarang ini KPU belumlah mengambil keputusan calon peserta Pemilihan presiden. Dalam kata lainnya, Sandi sekarang ini masih tetap hanya akan calon, bukan calon.

Ke-2, Sandi tidak menuturkan visi serta misinya pada masyarakat. Dalam kata lainnya, kunjungannya bisa disebutkan hanya bersilahturahmi atau perjumpaan semata-mata.

” Nampaknya, yang dikerjakan Sandi ialah bersilahturahmi, bukan kampanye karena dari tiap-tiap silaturahminya tidak mempromokan atau kampanyekan visi misi serta program-programnya, ” kata Siti.

Perihal dikit berlainan dikatakan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu serta Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini. Dia menilainya Sandi manfaatkan celah hukum.

Dengan UU Nomer 7 tahun 2017 tentan Pemilu, safari politik Sandi memanglah bukan kampanye. Di dalamnya ditata, jika kampanye ialah kegiatan yang dikerjakan oleh parpol, pasangan calon, atau calon legislatif peserta pemilu. Sesaat sekarang ini belumlah ada calon yang diputuskan KPU.

Dalam safari politik ke beberapa daerah Sandi memang tidak mengemukakan visi misi ataupun program. Statusnya juga masih tetap akan calon wakil presiden. Akan tetapi yang dikerjakan Sandi sebenarnya sisi dari kampanye karena dengan cara langsung serta tidak langsung bermuatan politis.

” Nah celah hukum ini lalu disiasati untuk beraktivitas yang sebenarnya telah adalah kampanye, tapi dengan resmi belumlah dapat dijaring menjadi kegiatan kampanye, ” tutur Titi.

” Pasti mustahil melarang mereka menjadi masyarakat untuk bersilaturahmi keduanya. Akan tetapi bersilahturahmi kan jelas perbedaannya dengan blusukan yang miliki muatan politik dengan arah menonjolkank elektoral, ” kata Titi.

Karenanya, Titi memiliki pendapat KPU serta Bawaslu butuh mengulas masalah celah hukum ini. Penyelenggara pemilu mesti satu saran serta membuat ketentuan berkaitan beberapa perihal yang bisa serta tidak bisa dikerjakan sebelum masuk waktu kampanye.

” Semakin lebih baik ada penyusunan atau persetujuan di antara KPU serta Bawaslu. Terpenting masalah apakah yang bisa serta tidak, supaya tidak berlangsung penyimpangan atau kekuatan bentrokan massa simpatisan dalam pengerjaannya di lapangan, “

About admin