Sosial Media Membuat Viral Video Porno Pelajar SMK Bulukumba

Sosial Media Membuat Viral Video Porno Pelajar SMK Bulukumba – Masyarakat Bulukumba, Sulawesi Selatan, digemparkan oleh video porno sepasang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kedua-duanya disebutkan telah tinggalkan Bulukumba serta mengawali hidup baru jadi pasangan suami-istri.

Peredaran video juga disuruh di stop serta hak-hak mereka untuk bersekolah didorong untuk masih ditanggung.

Video yang berdurasi seputar 29 detik itu menunjukkan sepasang siswa-siswi yang masih kenakan seragam putih abu-abu. Kedua-duanya lakukan jalinan tubuh di kelas. Video itu setelah itu viral dengan judul “Janganlah ko kasi nyala blitz-nya,” yang diambil dari pengucapan sang siswi pada pasangannya dalam video itu dalam dialek Sulawesi Selatan.

Rekaman itu disebutkan dibikin pada April 2019. Tetapi, belum didapati siapa yang menebarkannya. Faksi kepolisian masih menyelidiknya.

“Ini insiden bulan April lalu,” kata Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto, diambil dari Di antara, Minggu (6/6).

Contoh pernikahan.Contoh pernikahan.
Dia menjelaskan ke-2 remaja berinisial AM serta WA itu tidak tinggal di Bulukumba. Tetapi, faksinya telah mengusahakan perbaikan kondisi dengan menikahkan dua sejoli itu.

“Langkah kekeluargaan telah kita menempuh. Anak itu telah jalani hidup baru sebelum video ini jadi viral,” tuturnya.

“Sesaat usaha kekeluargaan yang dikerjakan berbentuk menikahkan mereka yang berkaitan,” Tomy memberikan tambahan.

Menurut dia, ini masalah lama yang telah usai. Peredaran video juga disuruh untuk di stop supaya tidak mengganggu psikologis serta hari esok ke-2 remaja itu.

“Dengan penebaran video ini pasti kembali mengganggu psikologi mereka. Walau sekarang ini tidak bertempat di Kabupaten Bulukumba,” katanya.

“Silahkan kita membantu mereka dengan tidak membunuh mereka, membunuh yang saya maksudkan bukan berbentuk fisik, tetapi hari esok mereka,” tambah Tomy.

Contoh sosial media.Sosial media membuat viral video porno.
Seirama, Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra minta warga tidak untuk ikut menebarkan video itu sebab terhitung tindak pidana.

“Kami meminta publik tidak untuk bagikan video itu karenanya tindak pidana. Ke-2, jika di-‘share’, itu akan membahayakan buat tumbuh kembang anak,” tuturnya.

Pegiat pendidikan Aris Munandar mengatakan video asusila di Bulukumba ini tunjukkan lemahnya kontrol sekolah pada siswa. Lebih, momen itu berlangsung di instansi pendidikan.

“Ini begitu memprihatinkan dunia pendidikan, ditambah lagi dikerjakan di kelas atau sekolah. Hal tersebut tunjukkan lemahnya penanaman nilai-nilai ciri-ciri positif pada siswa,” papar Aris Munandar, yang adalah Guru Besar Pengetahuan Pendidikan Kampus Negeri Makassar (UNM) ini.

Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Batanghari akan menyurati sekolah-sekolah yang ada dibawah naungan Kemenag, mulai Madrash Ibtidaiyah (MI) sampai Madrasah Aliyah (MA) di wilayah itu, untuk batasi pemakaian gawai atau gadget.

“Surat itu berisi himbauan pada pihak sekolah untuk batasi serta mengamati pemakaian gadget pada peserta didiknya, khususnya waktu ada di lingkungan sekolah, dan yang paling utama yaitu supaya sekolah lebih mengutamakan pendidikan ciri-ciri serta kepribadian anak,” kata Herman.

Hak Anak

Terpisah, Ketua KPAI Susanto memandang penyelesaian masalah ini punya potensi meicu permasalahan baru. Pertama, masalah sangsi dari faksi sekolah yang disebutkan sudah dijatuhkan pada ke-2 pelajar itu.

Menurut dia, sangsi dari sekolah itu butuh didalami supaya tidak malah melanggar hak-hak anak serta perlindungan anak.

“Kelangsungan sekolah ke-2 anak itu butuh diyakinkan. Jangan pernah masalah ini membuat mereka putus sekolah,” katanya.

Ke-2, lanjut ia, persetujuan keluarga untuk menikahkan ke-2 anak itu peluang memiliki kandungan faktor pelanggaran hak anak.

“Jika mereka masih pelajar sekolah menengah, karena itu mereka menikah sebelum batas umur yang dipastikan undang-undang,” kata Susanto.