Home / Berita Umum / Perpaduan Kesenian di Mojokerto Bukti Kehidupan Masyarakatnya yang Harmonis

Perpaduan Kesenian di Mojokerto Bukti Kehidupan Masyarakatnya yang Harmonis

Perpaduan Kesenian di Mojokerto Bukti Kehidupan Masyarakatnya yang Harmonis – Berlainan dengan perayaan di daerah beda, puncak tahun baru Imlek di Kota Mojokerto di isi dengan pawai beraneka kesenian. Kombinasi kesenian dari beberapa daerah di tanah air ini berubah menjadi bukti kehidupan orang Kota Onde-onde yg seirama di dalam keberagaman.

Kirab beraneka kesenian ini ambil start di Klenteng Hok Sian Kiong di Jalan Residen Pamudji. Setelah itu banyak peserta kirab telusuri Jalan Letkol Sumarjo, Jalan A Yani, Jalan Majapahit, Jalan Bhayangkara, Jalan Gajah Mada, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan PB Sudirman, terus kembali lagi klenteng. Riibuan penduduk tampak gairah saksikan pawai di selama jalan yg di lewati.

Kirab diawali terlebih dulu dengan pelepasan burung merpati oleh Komunitas Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Mojokerto. Pelepasan burung merpati berubah menjadi ikon perdamaian yg sejauh ini terbangun dengan baik di Kota Onde-onde.

Tidak cuma barongsai serta liang liong sebagai kesenian unik penduduk Tionghoa, kirab kesempatan ini pun mempertunjukkan kesenian dari banyak daerah di tanah air. Seperti Reog Ponorogo, Kuda Lumping, Ondel-ondel dari Betawi, dan parade fashion berbahan daur lagi.

Peserta kirab lantas capai 30 regu. Terdiri dalam banyak pemuda Tionghoa, group pelajar, beberapa lembaga pemerintah, Gusdurian, FKUB, sampai orang umum. Setidaknya 1. 600 orang berperan dalam pawai bertopik Pawai Budaya Serasi Berkebangsaan ini.

Wakil Ketua Tempat Beribadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Hok Siang Kiong Gede Sidartha menuturkan, pawai kebudayaan ini sekaligus juga untuk mengingat kembali layanan Presiden ke 4 RI KH Abdurrahman Wahid. Menurutnya, atas layanan Gus Dur, saat ini penduduk Tionghoa dapat rayakan tahun baru Imlek dengan terbuka. Bahkan juga tiap-tiap tahun jadikan libur nasional.

” Kami katakan terima kasih pada Gus Dur yg sudah mencabut Perintah Presiden Nomer 14 Tahun 1967 serta menerbitkan Ketetapan Presiden Nomer 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000, ” kata Gede pada wartawan di area, Minggu (17/2/2019) .

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Sigit Dany Setiono menjelaskan, pawai kesenian gabungan ini berubah menjadi bukti kehidupan antar umat beragama serta antar etnis di Kota Onde-onde sejauh ini berjalan seirama. ” Kami harap ini berubah menjadi miniatur serasi berbudaya serta berbangsa di Indonesia, ” katanya.

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari memberikan, tidak hanya berubah menjadi bukti kehidupan masyarakatnya yg seirama, kirab kebudayaan ini pula didambakan membuat ekonomi mikro di wilayahnya kembali bergeliat. Pastinya dengan jadikan pawai ini berubah menjadi agenda tahunan untuk menarik kunjungan wisatawan.

” Kami harap even begini sanggup menarik kunjungan wisatawan dari daerah beda, ” terangnya.

About admin