Home / Uncategorized / Faisal Odang Bahas Sastra di Generasi Sekarang

Faisal Odang Bahas Sastra di Generasi Sekarang

Faisal Odang Bahas Sastra di Generasi Sekarang – Sastrawan muda Faisal Oddang menceritakan mengenai peserta seminar yang sekalipun tidak familiar saat ia mengatakan sekira duapuluhan nama sastrawan tentukan tanding. Kata Oddang, ada satu peserta mengakui akrab dengan nama Tere Liye, namun saat Oddang ajukan pertanyaan judul buku punya Tere Liye mana yang sempat ia baca, mahasiswa itu juga terbata-bata mengakui kalau ia sebenarnya cuma suka pada tulisan-tulisan di kiriman status Facebook akun Tere Liye.

Narasi Oddang itu harusnya demikian menyentil dalam kondisi dunia sastra yang mulai sejak dahulu repot berdebat masalah politik sastra sampai kanon-kanon sastra. Di level praktis, politik sastra serta kanon sastra yang membahas sastra jadi satu karya dengan bermacam tehnik penyajian, uji coba style bhs, juga misi muluk yang diakui juga akan membawa akibat adiluhung buat dunia itu tidak miliki nada. Perkara yang hingga pada orang umum yaitu senantiasa semua suatu hal yang berbentuk mainstream dengan kata lain budaya massa. Hari ini, budaya massa mewujud dalam rupa-rupa status serta tema terbaru yang viral dalam satu jejaring serta khusus pada hari spesifik.

Saya sempat alami peristiwa sama Oddang pada saat isi satu acara kursus menulis di satu universitas. Berita kurang menyenangkannya, mahasiswa yang tengah belajar menulis saat itu yaitu calon-calon guru. Mereka yaitu sarjana pendidikan yang telah mengabdi sepanjang setahun juga di daerah terluar serta terpencil di Indonesia, namun saat saya mengatakan sebagian nama sastrawan Indonesia tersebut judul buku mereka, sama seperti Oddang, tak ada sahutan. Bahkan juga, terlihat terang pada air muka mereka seperti aktualisasi diri ” tidak tersambung ” sekalipun dengan tema yang dibicarakan.

Saya tidak ahli membahas sastra, namun saya pembaca yang yakin kalau karya sastra yang lekat dengan arti dulce et utile itu yaitu satu diantara type keinginan yang menolong kita untuk membedakan hal baik serta jelek, juga mana hal indah serta semrawut. Wah, janganlah bilang-bilang pada mereka yang saleh sebab berani-beraninya menyerupakan sastra dengan peranan agama, ya!

Ada narasi yang lebih mengerikan sekali lagi. Sekitaran th. 2014, satu universitas cukup terkenal membuat seminar nasional bhs dengan memanelkan tiga pemantik diskusi : Seno Gumira Ajidarma, Triyanto Triwikromo, serta satu orang sekali lagi yaitu seseorang doktor bagian sastra pengajar di universitas berkaitan. Seno senantiasa jadi sastrawan rendah hati dalam semuanya lembaga. Ia katakan kalau ia tidak sering menulis kritik sastra, bukanlah karna tak ada yang butuh dikritik, namun sebab ia senantiasa terasa kekurangan saat membaca karya-karya sastra paling baik yang terbit dari semua dunia.

” Saya terasa telah ngebut membaca. Namun tetaplah saja, karya paling baik yang terbit dari semua dunia lebih cepat dari kecepatan membaca saya. Terkadang saya hingga tidak dapat ngikutin dinamika yang berada di Indonesia sendiri. ”

Th. itu, Triyanto Triwikromo barusan menerbitkan novel Surga Sungsang. Triyanto juga menuturkan sedikit jurnal ilmiahnya yang membahas wacana wanita dalam karya-karya Sastrawangi. Triyanto sama dengan Seno, bukan sekedar mengajar di kelas, namun masih tetap selalu memerhatikan perubahan sastra pada masa ini di beberapa media terkecuali hasilkan karya-karya bagus yang senantiasa disegani serta dibicarakan beberapa orang.

Yang buat saya tidak berhasil memahami yaitu malah pernyataan Pak Dosen yang konon presentasi makalah dalam seminar itu agar segera jadi profesor. Ia kagok mengatakan satu judul cerpen Seno, serta yakin diri menyebutkan tidak ikuti perubahan sastra Indonesia mulai sejak belasan th. kemarin. Janganlah bertanya apakah beliau ini hasilkan karya di mass media atau tidak, lha wong ikuti perubahan bacaan-bacaan paling baru saja tidak, lho! Wah, walau sebenarnya saat itu saya datang seminar jadi pembaca snob yang membawa buku Senja serta Cinta yang Berdarah, himpunan cerpen Seno setebal bantal yang saat itu barusan terbit. Selesai acara, saya juga minta tanda tangan serta berfoto dengan pencipta tokoh Sukab, juga Alina yang menyukai dikirimi sepotong senja itu. Maklum, namanya juga pembaca snob!

Kemudian saya tidak berani memikirkan materi apa yang di ajarkan oleh dosen-dosen sastra yang tak akan membaca mulai sejak belasan th. lantas di kelas. Saya turut terbayang materi pelajaran bhs Indonesia semasa sekolah yang di produksi oleh rezim Orde Baru. Rezim yang buat pengetahuan sastra sebagian kurun generasi jadi demikian terbatas. Belajar bhs di masa sekolah yaitu pelajari seperangkat ketentuan kebahasaan, sama dengan rumus matematika atau pengetahuan alam yang rumit serta tidak sering mengesankan. Guru bhs juga tidak sering mengatakan (terlebih membahas) karya-karya kanon. Pertemuan saya dengan karya ngepop seperti teenlit di perpustakaan sudah pasti karna cover yang atraktif serta narasi yang dekat dengan emosi ciri khas anak remaja.

Jadi, kembali sekali lagi, kalau saya masih tetap jadi mahasiswa baru yang di tanya Oddang dalam seminar diatas, saya juga sama dengan peserta umumnya. Aduh, sedihnya!

Lho, namun kan telah lama kita ketahui bila sastra ini tidak perlu-penting sangat buat kehidupan di Indonesia. Keperluan manusia yang paling utama serta pertama sudah pasti yaitu makanan. Sesudahnya, terkecuali tempat tinggal, baju yaitu rekreasi juga hiburan. Dua paling akhir itu termasuk elegan buat warga umum Indonesia. Rekreasi seringkali disimpulkan jadi berkunjung ke beberapa tempat wisata yang ramai untuk melepas kepenatan sesudah capek bekerja. Hiburan, dapat diperoleh dari tv serta gawai, yang saat ini diisi sumber-sumber hoax, dari mulai group Whatsapp keluarga sampai group Whatsapp alumni.

Beberapa waktu terakhir, keluar perspektif baru didunia pariwisata dengan kata lain rekreasi. Konon, trend AirBnB (marketplace airbed and breakfast asal Amerika Perkumpulan) buat siapapun dapat menyewakan tempat tinggal, tempat tinggal bahkan juga sebatas satu kamar jadi tempat penginapan untuk wisatawan domestik ataupun turis asing. Trend itu menyebabkan aktivitas piknik tak akan dimaknai berkunjung ke kawasan-kawasan wisata yang populer, namun saat ini piknik yang sebenarnya yaitu mengetahui masyarakat lokal, berbaur serta tinggal dengan mereka. Tidak heran, di dukung dengan promosi mandiri lewat Instagram, banyak desa umum saat ini mempromosikan diri jadi desa wisata dengan tawaran paket kunjungan yang bermacam, dari mulai paket budaya sampai paket wisata pertanian.

Langkah pandang pendekatan sastra di sekolah miliki banyak jalan untuk berbenah. Kita akan tidak membahas sastra kanon-kanonan atau mana yang lebih nyastra atau tidak. Kita cuma menginginkan mengenalkan sastra jadi dianya, yaitu satu usaha estetis bhs yang menginginkan memberitahu kita beberapa hal. Kita bukanlah juga akan belajar sastra, namun rekreasi dengan sastra.

Anak-anak mesti percaya kalau saat membaca novel mereka juga akan hingga di banyak daerah serta tempat di beberapa belahan dunia. Novel juga akan buat mereka terima info baru mengenai budaya, kebiasaan yang asing, sampai beberapa nama makanan atau tumbuhan yang belum juga sempat mereka dengar terlebih dulu. Satu perseteruan yang padat pada satu narasi pendek yang baik juga akan merangsang pemikiran mereka juga akan karakter-karakter manusia bersama permasalahannya yang bermacam. Belajar kemanusiaan yaitu mengetahui kalau ketidaksamaan itu mutlak, lumrah serta umum saja. Belajar mengetahui ketidaksamaan yaitu belajar logika pemecahan persoalan dengan utuh.

Sensitivitas rumus-rumus kebahasaan yang jadi masalah dalam ujian tertulis itu, sebenarnya dapat keluar berbarengan dengan rasa terikat mereka pada karya.

Mulai sejak dahulu, kita telah tidak dapat mengharapkan pada kurikulum yg tidak searah pada maksud evaluasi dengan apa-apa yang harus di ajarkan. Walau demikian, tehnologi memudahkan guru-guru bhs untuk mengambil karya jadi bahan ajar. Pilihannya tidak terbatas, dari mulai Pramoedya, Umar Kayam, YB Mangunwijaya atau sastrawan-sastrawan muda tentukan tanding masa saat ini dapat didapat dengan gampang. Bekal rekreasinya gampang serta murah, tinggal kita ingin pergi atau tidak.

Kalis Mardiasih menulis opini serta menerjemah. Aktif jadi periset serta tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam mengemukakan pesan-pesan toleransi serta kampanye #IndonesiaRumahBersama. Bisa disapa lewat @mardiasih

About